“Who is ready for the next song let’s shout yiiiieeeha”
beberapa gelas alkohol, gemerlap lampu warna warni, teriakan pemuda riang dan bermacam macam bunyi kaki yang menyentuh lantai, semua suka tempat ini.
“Lan, ngga ikutan vandy nari di depan?”
Natasya bertanya kepada Dylan yang jelas dari wajah nya tidak terlihat antusias pada pesta ini, oh demi apapun bahkan Tasya sudah muak dengan Dylan.
“Ngapain, freak. Not my style at all” as, always.
Tasya pun mengangguk mengiyakan Dylan
“… Make sense, gua ke depan aja lah ya, just in case lo nyusul”
Dylan tidak menjawab, kaku dan malas menyerbu dirinya, Dylan bukan tipe orang yang suka diajak berpesta namun bukan juga tipe orang yang hidup nya hanya dirumah, Dylan mahasiswa kupu kupu yang suka keluar rumah.
✦•┈๑⋅⋯ ⋯⋅๑┈•✦
Kepala Dylan mulai tidak kuat dengan pengaruh alkohol, Dylan jelas bukan orang yang kuat minum alkohol, Dylan mudah mabuk dan mudah muntah.
“Hey, kamu tidak apa?… Maaf saya tadi terburu buru makanya menabrak kamu”
“Gapapa, lain kali jalan liat depan”
“I’m so sorry, mungkin saya bisa melakukan sesuatu untuk menebus kesalahan saya? it’s pure my fault”
“Ga perlu, shut up and go away”
Jelas yang dikatakan Dylan tidak sopan, pria tadi berwatakan lembut, ramah dan murah hati. Dilihat dari setelan pun pastinya dia lebih tua dari Dylan. Namun lihat sikap Dylan?
Jika ditanyakan mengapa hari ini Dylan berada di tempat yang jelas bukan gaya nya, ini dikarenakan teman teman kuliah yang mengajak Dylan untuk berpesta dengan mereka untuk terakhir kalinya. Dylan sempat menolak, namun Ivandy, teman baik Dylan sejak sekolah menengah, memaksa Dylan untuk mengikuti pesta di bar yang di selenggarakan teman perkuliahan mereka.